Malang,
13 Desember 2016
Assalamualaikum....
Sugeng enjing buk, pripun kabaripun? Sehat nggih? Kula datheng mriki
sehat. Maaf buk, Izza masih jelek Bahasa Kramanya, kemarin Izza UAS Bahasa
Jawa remidi, hehe.
Buk, tadi pagi Izza pergi ke
kebun teh bersama teman-teman Sekolah Izza. Selama disana, kami berbicara
banyak hal, salah satunya masa depan. Sambil memandang hijaunya daun-daun teh
dan merasakan dinginnya angin pagi kaki Gunung Arjuna kami merancang masa
depan, pikiran kami melayang kemana-mana.
“Za, lulus SMK mau ngapain?
Kerja? Kuliah? Atau nikah?” Celoteh salah satu temanku.
“Kerja sek. Nanti kalau kuliah
mikir tugas lagi, capek mikir tugas. Haduuu, jangan mikir nikah dulu, remdi UAS
aja belum selesai” Jawabku asal sambil tertawa.
Hari libur yang menyenagkan
menurutku. Ya, meskipun aku tidak lama berada disana.
Tapi buk, aku menuliskan surat
ini bukan untuk menceritakan hal itu. Aku ingin menceritkan ketakutanku. Aku
takut kesibukanku di masa depan menjadikanku lebih jauh darimu. Apalagi kalau aku
menikah, lalu aku punya anak. Pasti aku akan sibuk dengan suamiku dan anakku,
padahal saat itu engkau pasti juga sudah mulai menua. Aku takut, aku tidak bisa
membahagiakan engkau dimasa senjamu. Aku berfikir ingin rasanya kembali ke masa
lalu, saat aku masih kecil.
Ya, meskipun masa kecil ku harus
terbagi dengan Rizal dan Tata. Tapi itu lebih baik, aku menikmatinya. Buk,
bisakah aku meminta kepada Tuhan untuk memutar waktu? Ah, aku rasa tidak
mungkin, tapi aku akan tetap memintanya. Aku akan berdoa pada-Nya agar waktu
diputar, dan mengembalikanku pada masa lalu. Lalu, akupun juga meminta agar
waktu itu diperlambat, agar aku lebih lama bersamamu. Yah, aku mulai berfikir
yang tidak-tidak, tapi aku benar-benar mengharapkannya.
Ah, sungguh aku kangen masa
kecilku. Masa dimana engkau mengantarku ke sekolah dengan menggendong Tata.
Masa dimana engkau mengajariku matematika sampai larut malam. Masa dimana
engkau memaksaku sarapan sebelum aku berangkat sekolah. Masa dimana engkau mencubitku
karena bertengkar dengan Rizal dan Tata. Aku masih mengingat masa-masa itu, dan
aku sangat merindukannya.
Sekarang, aku bersekolah di salah
satu sekolah informatika terbaik di Indonesia yang letaknya di luar
Tulungagung. Karena letaknya yang jauh dan belum lagi tugas sekolah yang mewajibkanku
berkutat dengan laptop setiap hari, aku jadi jarang sekali bertemu dan
menghubungimu. Entah paham apa yang sekarang aku anut, hingga terkadang aku
lupa bahwa aku dirindukan olehmu. Apakah aku terlalu larut dalam kesibukan,
atau hatiku beku terpengaruh rutinitas kehidupan dikota? Entahlah buk. Sesungguhnya
aku benci dengan masa sekarang, keadaan sekarang. Dan aku takut akan masa
depan.
Sekarang saja, aku merasa jauh
darimu, padahal kesibukanku belum seberapa. Bagaimana dengan nanti? Dengan
besok? Dengan lusa? Dengan masa depan? Aku sangat takut. Bantu aku agar
ketakutanku tidak terjadi. Aku tidak ingin engkau cepat menua, aku ingin
membahagianmu. Aku sangat mencintaimu. Bahkan hingga saat aku menuliskan surat
ini, aku masih belum bisa menggambarkan seberapa besar aku mencintai dan
merindukanmu.
Semoga engkau tetap sehat dan
selalu bahagia dalam lindungan-Nya. Semoga Tuhan mau mengabulkan doaku yang
satu ini. Amiinn..
Buk, cukup sekian ya, tunggu aku
pulang. Minggu ini aku pulang, mari kita rayakan pertemuan kita.
I love
you....
Wassalamuaikum...
Anakmu,
Nur
Izza Lutful Rizqiani
#100SuratUntukIbu